TANGERANGNEWS.CO.ID, Serang | Sebuah potret memilukan kembali mencoreng wajah pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan Kabupaten Serang. M. Hamzah, seorang bocah berusia 11 tahun asal Desa Wargasara, Tirtayasa, harus bertaruh nyawa menahan sakit luar biasa setelah tersengat ikan lepo (stonefish) yang sangat beracun pada Minggu (22/3/2026).
Ironisnya, di tengah kondisi darurat yang mengancam keselamatan tersebut, fasilitas kesehatan di Pulau Tunda ditemukan dalam keadaan kosong tanpa satu pun tenaga medis yang bertugas.
Kronologi Kejadian: Antara Ceria dan Petaka
Peristiwa bermula saat korban sedang menikmati waktu bermain bersama adiknya di pantai Pulau Tunda sekitar pukul 14.00 WIB. Namun, keceriaan itu berubah menjadi jerit histeris saat kaki korban tak sengaja menginjak duri beracun ikan lepo—salah satu ikan paling berbisa di dunia.
“Awalnya hanya bermain biasa. Namun sekitar satu jam kemudian anak saya tiba-tiba kesakitan. Kakinya langsung bengkak hebat,” tutur Hamzah, ayah korban, dengan nada getir.
Puskesmas Tanpa Penghuni: “Kami Seperti Dibiarkan”
Melihat kondisi anaknya yang kian memburuk, Hamzah segera melarikan putranya ke Puskesmas Pembantu (Pustu) Pulau Tunda. Namun, harapannya pupus. Ruang perawatan yang seharusnya menjadi garda terdepan penyelamatan justru lengang.
“Di puskesmas tidak ada bidan, tidak ada mantri. Seharusnya mereka siaga. Diduga mereka semua libur Lebaran dan pulang ke luar pulau,” ujar Hamzah kecewa.
Tanpa adanya pertolongan medis profesional, keluarga terpaksa mengambil risiko besar dengan menggunakan pengobatan tradisional seadanya untuk meredakan racun yang kian menjalar di tubuh sang anak.
Isolasi Kesehatan di Wilayah Kepulauan
Insiden ini menjadi pengingat pahit bagi Pemerintah Kabupaten Serang mengenai ketimpangan layanan kesehatan di wilayah terpencil. Jarak tempuh menuju Serang atau Tirtayasa yang memakan waktu lama dan biaya besar membuat warga Pulau Tunda praktis tak memiliki pilihan saat kondisi darurat terjadi.
“Kami jauh dari daratan. Kondisi darurat tidak bisa menunggu jadwal libur atau kepulangan petugas ke daratan. Ini soal nyawa,” tegas Hamzah.
Kasus ini kini menjadi sorotan luas di media sosial, memicu gelombang simpati dan kritik terhadap keadilan akses kesehatan bagi warga di pelosok negeri.(ceng)

Tinggalkan Balasan