TANGERANGNEWS.CO.ID, Tangerang | Di tengah tuntutan meningkatkan kualitas pendidikan, ribuan Guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu di Provinsi Banten justru menghadapi kenyataan pahit. Hingga pertengahan Maret 2026, para pahlawan tanpa tanda jasa ini dilaporkan belum menerima gaji sepeser pun sejak Januari 2026.

Kondisi ini memicu gelombang keresahan luar biasa, mengingat para guru tetap menjalankan kewajiban mengajar di sekolah, sementara kebutuhan dapur dan cicilan terus menghimpit tanpa ada kepastian pembayaran.

“Kami Makan Pakai Apa?”

Keluhan muncul dari berbagai wilayah, mulai dari Tangerang Raya hingga pelosok Lebak dan Pandeglang. Banyak guru yang terpaksa berutang demi bisa membeli bensin untuk berangkat ke sekolah.

“Januari, Februari, sampai Maret ini kosong. Kami diminta profesional mengajar, tapi hak dasar kami diabaikan. Status saja PPPK, tapi nasib lebih miris dari buruh harian,” ungkap salah seorang guru PPPK Paruh Waktu yang meminta identitasnya dirahasiakan (14/03/2026).

Ironi di Balik Status Paruh Waktu

Status “Paruh Waktu” yang seharusnya menjadi solusi transisi bagi tenaga honorer, kini justru dianggap sebagai “jebakan” administratif. Selain persoalan THR yang sebelumnya sempat viral karena nominalnya yang kecil, mandeknya gaji selama tiga bulan berturut-turut menjadi puncak gunung es dari karut-marutnya tata kelola SDM di Pemprov Banten.

Desakan Nasional: Kemendikbudristek & Kemendagri Harus Turun Tangan

Forum Guru Banten menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar masalah teknis administrasi, melainkan bentuk kelalaian serius dari Pemerintah Provinsi Banten dalam mengelola anggaran belanja pegawai.

Tuntutan Utama Para Guru:

  1. Bayar Rapel Gaji Segera: Tanpa syarat dan tanpa penundaan lagi sebelum memasuki Idul Fitri.
  2. Transparansi Anggaran: Menuntut penjelasan terbuka dari BPKAD dan Dinas Pendidikan Provinsi Banten terkait penyebab mandeknya gaji.
  3. Kepastian Hak: Meminta perlindungan dari pemerintah pusat agar kasus “kerja bakti paksa” ini tidak terulang di masa depan.

“Guru adalah pelita, tapi jangan biarkan pelita itu padam karena perutnya lapar,” tulis salah satu pesan berantai yang viral di kalangan pendidik Banten.(ceng)