TANGERANGNEWS.CO.ID, Tangerang | Aksi mengejutkan dilakukan warga Perumahan Pamulang Permai, Kota Tangerang Selatan. Mereka menggembok pintu gerbang dan portal akses menuju gedung sekolah negeri sebagai bentuk protes keras terhadap sistem penerimaan murid baru (SPMB) jalur domisili yang dinilai tidak mengakomodir anak-anak warga sekitar.
Ketua RW 10 Kelurahan Pamulang Barat, Suhendar Wijaya, menyampaikan bahwa warga telah mengajukan sembilan siswa ke SMA Negeri 6 Pamulang. Namun, sayangnya, anak-anak mereka gagal lolos dalam seleksi yang dianggap tidak adil.
“Kami mengajukan sembilan siswa ke SMAN 6, tapi tidak ada yang lolos,” ungkap Suhendar pada awak media. Sabtu (5/7/2025).
Meski pintu utama digembok, akses menuju gedung sekolah masih bisa dilalui lewat pintu lain. Namun, Suhendar menegaskan protes ini akan berlanjut dan menunggu keputusan dari Gubernur Banten, Andra Soni.
“Kalau keputusan tidak sesuai harapan, kami terpaksa mengambil langkah tegas dan enggan menjalin hubungan baik serta kerja sama dengan lingkungan sekolah,” tegasnya.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Di Kota Tangsel, setidaknya tiga SMA negeri yang dikelola pemerintah provinsi Banten juga mengalami aksi serupa. Warga di sekitar SMA Negeri 3 dan 6 Kecamatan Pamulang, serta SMA Negeri 10 di Kelurahan Jombang, Ciputat, telah menggembok akses jalan menuju sekolah sebagai bentuk protes terhadap sistem SPMB 2025.
Awak media telah berupaya menghubungi Lukman, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, untuk meminta klarifikasi terkait konflik ini, namun hingga saat ini belum mendapat respons.
Kasus ini memicu perhatian luas masyarakat dan memunculkan pertanyaan besar tentang keadilan dan transparansi dalam sistem penerimaan murid baru di sekolah negeri. Apakah pemerintah provinsi akan segera mengambil langkah tegas untuk menyelesaikan masalah ini?(ceng)


Tinggalkan Balasan