TANGERANGNEWS.CO.ID, Semarang | Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah berkolaborasi dengan Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) membuat terobosan progresif dalam dunia lingkungan dan pendidikan. Melalui inisiasi program Hutan Wakaf Muhammadiyah, kedua lembaga ini resmi memanfaatkan lahan wakaf seluas \pm3.000 meter persegi di lingkungan Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) untuk disulap menjadi hutan pendidikan berbasis wakaf pertama di kawasan tersebut.

​Langkah ini menjadi oase segar di tengah isu krisis iklim global. Selama ini, pendekatan perhutanan sosial di Indonesia kerap kali terlalu berorientasi pada nilai ekonomi (profit) semata, sehingga sering kali melupakan aspek esensial seperti konservasi, nilai agama, dan budaya lokal. Hutan Wakaf Muhammadiyah hadir untuk mendobrak stigma tersebut, membuktikan bahwa instrumen keagamaan seperti wakaf bisa menjadi motor penggerak penyelamatan bumi.

Bukan Sekadar Penghijauan: Laboratorium Alam & Penjaga Iklim

​Program ini dirancang bukan hanya sebagai aksi menanam pohon biasa, melainkan sebagai laboratorium ekologi hidup, pusat edukasi, dan pusat konservasi. Kawasan ini nantinya akan menjadi ruang belajar terbuka bagi mahasiswa, dosen, hingga masyarakat umum untuk mendalami ilmu ekologi, agroforestri, dan pengelolaan lingkungan secara praktis.

​Selain berfungsi sebagai penjaga iklim mikro di wilayah Semarang, kawasan ini juga diarahkan menjadi arboretum konservasi tanaman endemik, di mana flora-flora langka Indonesia akan dilestarikan dan dijaga kelangsungan hidupnya.

Tiga Pilar Model Hutan Wakaf Muhammadiyah

​Untuk memastikan keberlanjutan dan dampak yang luas, program inovatif ini dikembangkan melalui tiga model utama:

  1. Hutan Wakaf Pendidikan & Riset: Menjadi pusat inovasi, penelitian ilmiah, dan ruang praktikum multidisiplin ilmu bagi akademisi.
  2. Hutan Wakaf Agroforestri: Mengombinasikan tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian yang memberikan manfaat ekologis sekaligus ketahanan pangan lokal.
  3. Hutan Wakaf Pemberdayaan Perempuan: Melibatkan kelompok perempuan secara aktif dalam pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan non-kayu, guna mendorong kesetaraan gender dan kemandirian ekonomi.

​Inisiasi di UNIMUS ini diharapkan menjadi pilot project yang memicu lahirnya hutan-hutan wakaf baru di berbagai jaringan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) serta lahan wakaf Muhammadiyah lainnya di seluruh penjuru negeri.(ceng)