TANGERANGNEWS.CO.ID, Jakarta | Ketegangan antara Pakistan dan India kembali meningkat setelah klaim Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, yang menyatakan bahwa Pakistan telah menembak jatuh lima pesawat tempur Rafale milik India dalam eskalasi konflik yang terjadi pada Rabu (8/5) lalu. Klaim tersebut kemudian disebarluaskan oleh media pemerintah China, The Global Times.

Namun, klaim ini mendapat respons dari Kedutaan Besar India yang menyebut laporan tersebut sebagai disinformasi. Pemerintah India sendiri hingga saat ini tidak memberikan konfirmasi maupun pembantahan resmi terkait klaim tersebut.

Sementara itu, pejabat Gedung Putih, Amerika Serikat, menyampaikan bahwa pesawat tempur yang digunakan Pakistan dalam serangan tersebut adalah jenis J-10 buatan China. Pejabat AS juga menyebutkan bahwa Pakistan berhasil menjatuhkan setidaknya dua pesawat milik India.

Perkembangan ini menarik perhatian Indonesia karena Indonesia juga mengoperasikan pesawat tempur Rafale produksi Prancis. Indonesia berencana untuk memiliki hingga 42 unit pesawat Rafale sebagai bagian dari modernisasi alutsista.

Muncul pertanyaan di kalangan pengamat dan masyarakat, apakah keputusan pemerintah Indonesia untuk membeli pesawat Rafale merupakan langkah tepat atau justru menjadi blunder, mengingat eskalasi ketegangan di wilayah lain yang melibatkan jenis pesawat tersebut.

Pakar militer dan analis pertahanan menekankan pentingnya melihat keputusan pembelian alutsista dalam konteks kebutuhan pertahanan nasional dan kemampuan teknologi pesawat secara keseluruhan, bukan hanya berdasarkan insiden di negara lain.(PW)