TANGERANGNEWS.CO.ID, Kronjo | Kabar mengejutkan datang dari implementasi program nasional di wilayah pesisir Tangerang. Sebanyak 33 siswa dari berbagai jenjang pendidikan di Kecamatan Kronjo dilaporkan mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (29/4/2026). Insiden ini memicu kepanikan luar biasa di kalangan orang tua siswa dan menjadi sorotan tajam publik terkait standar keamanan pangan program pemerintah.
Gejala Massal Pasca-Sekolah
Para siswa dilaporkan mulai merasakan gejala yang seragam setelah pulang sekolah. Kapolsek Kronjo, Iptu Bayu Sujatmiko, mengungkapkan bahwa para korban mengeluhkan kondisi fisik yang menurun drastis dalam waktu singkat.
- Gejala Klinis: Seluruh korban mengaku mengalami mual, muntah-muntah, pusing hebat, hingga diare.
- Penanganan Medis: Petugas segera mengevakuasi seluruh korban ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan darurat.
- Status Terkini: Hingga Kamis (30/4), lima siswa masih harus menjalani perawatan intensif di puskesmas, sementara 28 siswa lainnya telah diperbolehkan menjalani rawat jalan.
Dugaan Kontaminasi: Makaroni “Bermalam” Sejak Selasa
Penyelidikan awal kepolisian bersama ahli gizi dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) langsung mengarah pada satu titik lemah dalam proses produksi. Berdasarkan keterangan awal, sumber masalah diduga kuat berasal dari salah satu lauk dalam paket makanan tersebut.
“Hasil keterangan awal ahli gizi mengarah pada makaroni sebagai sumber masalah. Diduga terjadi kontaminasi bakteri karena proses pengolahan yang tidak tepat waktu; makaroni tersebut sudah diolah sejak Selasa malam,” tegas Iptu Bayu Sujatmiko.
Menu lengkap yang dikonsumsi siswa saat kejadian meliputi makaroni telur, tahu, bakso, wortel, dan buah melon. Program ini dikelola oleh SPPG Cirumpak Yayasan Leuit Abhipraya Nawasena dengan jangkauan luas mencapai 2.820 penerima manfaat, termasuk siswa PAUD hingga kelompok ibu hamil dan balita di Desa Cirumpak.
Teguran Keras dan Investigasi Laboratorium
Camat Kronjo, Muhammad Mumu Mukhlis, membenarkan bahwa pihak Muspika, MUI, dan pemerintah desa telah memberikan teguran keras kepada pengelola SPPG atas kelalaian yang terjadi.
- Uji Sampel: Petugas telah mengamankan sampel makanan dari lokasi untuk dilakukan uji laboratorium di Puskesmas Kronjo.
- Timeline Penyelidikan: Hasil laboratorium diperkirakan baru akan keluar pada awal pekan depan, yang akan menjadi dasar bagi kepolisian untuk menentukan kelanjutan proses hukum.
- Pemantauan: Polisi dan tenaga kesehatan terus menyisir dan mendata kemungkinan adanya korban tambahan di antara ribuan penerima manfaat lainnya.
Desakan Standar Keamanan
Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Publik kini mendesak adanya pengawasan ketat terhadap rantai produksi makanan, mengingat target program MBG adalah kelompok rentan. Kepolisian berkomitmen untuk menuntaskan penyelidikan guna memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.(ceng)

Tinggalkan Balasan