TANGERANGNEWS.CO.ID, Lampung | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi solusi peningkatan gizi masyarakat justru menuai sorotan tajam. Video viral yang beredar pada Jumat (17/4/2026) memperlihatkan kondisi memprihatinkan: sajian daging sapi yang begitu keras hingga disebut “seperti karet” oleh para penerima manfaat.

Insiden tersebut terjadi di SPPG Tugu Sari 2. Dalam rekaman yang ramai dibagikan di media sosial, terlihat para siswa kesulitan mengunyah daging, bahkan ada yang memilih tidak memakannya. Pihak sekolah pun tak membantah. Kepala SPPG Tugu Sari 2, Dedi Suhendra, mengakui bahwa daging yang disajikan memang alot dan tidak layak dari segi tekstur.

Kejadian ini langsung memicu gelombang kemarahan publik. Warganet mempertanyakan bagaimana makanan yang seharusnya memenuhi standar gizi justru berujung pada kualitas yang dinilai jauh dari layak konsumsi. Lebih mengkhawatirkan, laporan serupa disebut tidak hanya terjadi di satu titik, tetapi juga di beberapa sekolah lain.

“Ini program untuk anak-anak, tapi kualitasnya seperti ini? Di mana pengawasannya?” tulis salah satu pengguna media sosial yang turut menyebarkan video tersebut.

Kritik pun mengarah pada dugaan lemahnya kontrol kualitas dalam rantai distribusi makanan. Mulai dari proses pemilihan bahan baku, pengolahan, hingga distribusi dinilai tidak berjalan optimal. Bahkan, muncul desakan agar pemerintah segera melakukan audit menyeluruh terhadap tim pelaksana di lapangan, termasuk mengecek kompetensi dan sertifikasi para juru masak.

Insiden ini menjadi tamparan keras bagi pelaksanaan program MBG. Publik kini menilai, keberhasilan program tidak cukup hanya ditopang anggaran besar, tetapi juga harus dibarengi dengan standar profesionalisme yang ketat.

Jika tidak segera dibenahi, program yang bertujuan mulia ini justru berisiko kehilangan kepercayaan masyarakat—dan yang paling dirugikan adalah generasi muda yang seharusnya mendapatkan manfaat maksimal.

(ceng)