​TANGERANGNEWS.CO.ID, Tangerang | Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengeluarkan peringatan keras dan imbauan darurat bagi warga yang berada di sekitar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang. Masyarakat diminta segera menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti masker dan menjauhi area terdampak untuk menghindari paparan asap beracun akibat kebakaran hebat yang melanda kawasan tersebut.
​Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (PPKLH) KLH, Rasio Ridho Sani, menegaskan bahwa kualitas udara di sekitar lokasi telah memasuki level yang sangat memprihatinkan akibat lonjakan konsentrasi partikulat halus yang ekstrem.
​”Kami sampaikan tentu pada masyarakat yang berada di lokasi sekitar sini agar tetap menggunakan alat pelindung diri, termasuk menggunakan masker agar dampak pada kesehatan mereka bisa tertangani. Ini langkah-langkah kita sekarang,” jelas Rasio di lokasi kejadian, Jumat (3/7/2026).
​Angka Mengerikan: Polusi Udara Lampaui Ambang Batas Aman
​Berdasarkan hasil pemantauan cepat yang dilakukan oleh tim teknis KLH, tingkat pencemaran udara di area sekitar kebakaran telah berada di zona sangat berbahaya:
- ​PM2.5 mencapai sekitar 1.000 (Jauh melampaui baku mutu harian nasional yang hanya sebesar 55).
- ​PM10 menyentuh angka 750 (Melonjak tajam dari baku mutu ideal sebesar 75).
​Tidak hanya partikulat halus, KLH juga mengukur parameter gas beracun lainnya seperti NOx dan SOx. Hal ini dikarenakan material yang terbakar di TPA didominasi oleh sampah plastik dan limbah domestik lainnya yang memicu pelepasan zat karsinogenik berbahaya.
​”Partikulatnya SOx, NOx karena juga di sini yang terbakar di antaranya ada plastik dan sebagainya, tentu plastik kan juga berdampak ke kesehatan,” ujar Rasio.
​Ia menambahkan bahwa karakter polusi udara dari kebakaran TPA jauh lebih mematikan dibanding kebakaran lahan biasa. “Karena dampak kualitas udaranya, pertama dia ada biomassa, ada gas metannya, kemudian kan ada plastik dan sebagainya,” tutur Rasio. Warga yang tidak berkepentingan dilarang keras mendekati lokasi karena risiko tinggi terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
​Gempuran Udara: BNPB Terjunkan Helikopter Water Bombing
​Merespons situasi kritis ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bergerak cepat mengoptimalkan operasi pemadaman dari udara (aerial firefighting).
​Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB, Brigjen Djohan Darmawan, menyatakan bahwa strategi pemadaman terus diintensifkan dengan mengerahkan armada udara. Dua unit helikopter water bombing dikerahkan kembali hari ini untuk menyiram titik api yang sulit dijangkau di tengah gunungan sampah.
​Selain mengandalkan jalur udara, BNPB bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang juga melakukan strategi darat dengan membuka “jalan terobos”. Langkah taktis ini dilakukan agar armada mobil pemadam kebakaran (Damkar) dan instalasi selang pemadam bisa merangsek masuk sedekat mungkin ke pusat titik api.(ceng)

Tinggalkan Balasan