TANGERANGNEWS.CO.ID, Tangerang | Kabar duka mendalam menyelimuti bumi perkemahan dan dunia kepramukaan Indonesia. Tokoh Pramuka legendaris asal Tangerang, Kak Herman, telah berpulang ke Rachmatullah pada Minggu (7/6/2026) dini hari akibat kecelakaan lalu lintas saat sedang melakukan aktivitas yang sangat dicintainya: mengayuh sepeda.

​Sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi sang inspirator lintas generasi, jenazah Kak Herman dishalatkan di Masjid Raya Al-A’zhom, Kota Tangerang, pada Minggu (7/6) siang. Ratusan anggota Pramuka, kerabat, hingga masyarakat umum turut mengantarkan kepergian sosok yang dikenal bersahaja ini dengan isak tangis dan doa yang mendalam.

​Dedikasi Tanpa Batas: Mengayuh Sepeda Demi Pramuka

​Bagi generasi muda Tangerang, Kak Herman bukan sekadar senior, melainkan simbol dedikasi tanpa batas. Selama puluhan tahun, beliau aktif menanamkan nilai-nilai kepanduan, kedisiplinan, dan cinta alam kepada ribuan pemuda.

​Namun, ada satu ciri khas yang membuat sosoknya begitu melekat di ingatan publik: sepeda tuanya.

​Cinta Kak Herman pada Pramuka dan sepeda adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Publik tentu ingat aksi heroiknya yang sempat viral beberapa waktu lalu, di mana beliau dengan fisik yang tak lagi muda nekat mengayuh sepeda (gowes) dari Tangerang menuju:

  • Bumi Perkemahan Cibubur (Jakarta Timur) demi menghadiri Hari Pramuka.
  • Bumi Perkemahan Jatinangor (Sumedang, Jawa Barat), sebuah perjalanan antarkota-antarprovinsi yang menguras fisik, namun dilaluinya dengan senyum mengembang demi kecintaan pada Pramuka.

​Kronologi Singkat Kejadian

​Hingga akhir hayatnya, Kak Herman tetap setia pada sepedanya. Beliau menghembuskan napas terakhir setelah terlibat kecelakaan tragis—ditabrak oleh kendaraan saat sedang gowes—di Jalan Raya Serang, kawasan Bitung, Kabupaten Tangerang, pada Minggu (7/6) dini hari tadi.

​Kepergiannya yang mendadak ini memicu gelombang ucapan duka dan belasungkawa di berbagai platform media sosial dengan tagar #SelamatJalanKakHerman dan #PramukaBerduka. Publik merasa kehilangan sosok role model yang nyata, yang mengajarkan bahwa usia hanyalah angka dalam hal mengabdi dan berkarya.

​”Kak Herman adalah bukti nyata bahwa Pramuka bukan sekadar baju seragam, tapi jalan hidup. Beliau pulang saat sedang melakukan apa yang paling beliau cintai. Dedikasi dan kayuhan sepedanya akan selalu menginspirasi kami,” ujar salah satu anggota Pramuka Tangerang dengan mata berkaca-kaca di halaman Masjid Al-A’zhom.

​Selamat jalan, Kak Herman. Terima kasih atas setiap peluh, inspirasi, dan cerita yang telah engkau ukir di atas dua roda demi masa depan Pramuka Indonesia. Semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.(ceng)