TANGERANGNEWS.CO.ID, Tangerang | Ketenangan ibadah Subuh warga Kampung Kalibaru, Desa Kalibaru, Kecamatan Pakuhaji, kembali terkoyak. Pada Minggu (1/3) pagi, aksi tawuran antarpelompok pemuda pecah tepat saat masyarakat baru saja menyelesaikan salat Subuh dan hendak memulai aktivitas pagi.
Bentrokan ini bukan sekadar insiden tunggal, melainkan fenomena yang dilaporkan terjadi secara berulang dan sistematis setiap akhir pekan, hingga membuat warga setempat hidup dalam bayang-bayang ketakutan.
Tradisi Kelam Akhir Pekan
Menurut kesaksian warga, aksi anarkis ini memiliki pola yang teratur. Sekelompok anak muda yang diduga berasal dari desa tetangga sengaja berkumpul di satu titik tertentu sejak dini hari sebelum akhirnya terlibat saling serang menggunakan senjata tajam dan benda tumpul.
“Hampir setiap Sabtu dan Minggu pagi setelah Subuh pasti mereka kumpul. Ini sudah sangat meresahkan. Kami yang mau berangkat kerja atau ke pasar jadi takut lewat. Mereka tidak peduli ada orang lewat atau tidak,” ungkap salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya karena alasan keamanan.
Warga Terancam, Pengguna Jalan Tercekat
Keresahan warga tidak hanya soal kebisingan, tetapi juga keselamatan nyawa. Lokasi tawuran yang berada di akses jalan utama desa mengancam pengguna jalan dan masyarakat sekitar yang mulai beraktivitas di pagi hari.
Masyarakat mengaku heran mengapa kelompok pemuda dari luar wilayah tersebut bisa dengan bebas menjadikan kampung mereka sebagai “arena perang” tanpa ada tindakan pencegahan yang efektif.
Mendesak Patroli “Garis Depan” Kepolisian
Kecewa dengan situasi yang tak kunjung kondusif, masyarakat Pakuhaji kini melayangkan desakan keras kepada aparat kepolisian dan instansi terkait. Warga menuntut:
- Patroli Rutin Subuh: Fokus pada titik kumpul massa di hari Sabtu dan Minggu mulai pukul 03.00 hingga 06.00 WIB.
- Tindakan Tegas: Penangkapan aktor intelektual dan pelaku tawuran untuk memberikan efek jera.
- Penerangan dan Pengawasan: Pemasangan CCTV atau pengaktifan pos kamling terpadu di titik-titik rawan.
“Kami butuh rasa aman, bukan sekadar janji. Jangan tunggu ada korban jiwa baru patroli ditingkatkan,” tegas warga lainnya.(ceng)

Tinggalkan Balasan