TANGERANGNEWS.CO.ID, Tangerang | Amarah warga memuncak. Jalan Raya Cipondoh, tepatnya di Jembatan Angke depan Perumahan Ciledug Indah 1, kembali menjadi sorotan tajam setelah insiden kecelakaan tragis menimpa satu keluarga. Seorang ibu yang sedang membonceng dua orang anak dan seorang nenek dilaporkan terjatuh akibat kondisi jalan yang hancur.

Ironisnya, kerusakan ini terjadi di lokasi yang diklaim warga baru saja selesai diperbaiki. Proyek yang seharusnya memberikan kenyamanan kini justru berubah menjadi jebakan maut bagi pengendara yang melintas.

Satu Keluarga Terluka: Di Mana Tanggung Jawab Kontraktor?

Saksi mata di lokasi menyebutkan bahwa kendaraan korban hilang kendali setelah menghantam lubang dan permukaan jalan yang tidak rata di area jembatan. Warga sekitar langsung berhamburan menolong para korban yang tampak syok dan mengalami luka-luka.

“Baru kemarin diperbaiki, masa sudah rusak lagi? Ini kerjanya asal-asalan atau bagaimana? Tadi kasihan sekali, ada anak kecil dan nenek-nenek sampai jatuh karena lubangnya dalam dan licin,” ujar salah satu warga yang berada di lokasi kejadian, Minggu (1/3).

Proyek “Roro Jonggrang”: Cepat Jadi, Cepat Rusak

Kondisi Jembatan Angke ini memicu pertanyaan besar dari publik mengenai kualitas material dan pengawasan proyek jalan di Kota Tangerang. Warga mengeluhkan pola perbaikan yang terkesan “tambal sulam” dan tidak bertahan lama.

Beberapa poin tuntutan warga yang kini viral di media sosial antara lain:

  1. Audit Kualitas Proyek: Mempertanyakan mengapa jalan yang baru diperbaiki bisa hancur dalam hitungan hari.
  2. Penerangan Minim: Selain jalan rusak, minimnya cahaya di area jembatan saat malam hari menambah risiko kecelakaan.
  3. Perbaikan Permanen: Warga menolak perbaikan ala kadar dan menuntut pengaspalan ulang yang sesuai standar keamanan nasional.

Tangerang Darurat Lubang?

Insiden ini menambah daftar panjang keluhan infrastruktur di wilayah penyangga Jakarta. Masyarakat kini mendesak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang untuk segera turun tangan sebelum ada korban jiwa yang lebih fatal.

“Kami tidak butuh janji perbaikan yang hanya bertahan seminggu. Kami butuh jalan yang aman untuk anak cucu kami,” tegas perwakilan komunitas warga setempat.(ceng)