TANGERANGNEWS.CO.ID, Tangerang | Wilayah Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, kini resmi naik kelas ke panggung utama pembangunan metropolitan. Melalui pertemuan strategis lintas daerah di Balai Kota Jakarta pada Rabu (20/5), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kabupaten Tangerang sepakat mengeksekusi lahan tidur raksasa seluas 95 hektar di Desa Ciangir, Kecamatan Legok, untuk disulap menjadi kawasan terintegrasi berbasis ekonomi dan infrastruktur penunjang aglomerasi Jakarta.
Langkah berani ini menjadi sinyal terkuat bahwa Kabupaten Tangerang bukan lagi sekadar wilayah penyangga (buffer zone), melainkan jantung baru dari perluasan kawasan megapolitan Jabodetabekjur yang terintegrasi.
Menyulap Lahan Tidur Raksasa Ciangir Menjadi Pusat Ketahanan Pangan dan Permukiman
Bupati Tangerang, Maesyal Rasyid, menegaskan bahwa aset berharga milik Pemprov DKI Jakarta yang berada di wilayahnya tersebut tidak boleh lagi menjadi aset pasif. Pihaknya bersama Pj Gubernur DKI Jakarta berkomitmen penuh agar pemanfaatan lahan ini langsung menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat.
“Pak Gubernur DKI ingin agar lahan Pemda DKI yang ada di Desa Ciangir ini bisa membawa manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Yang terpenting, dampaknya bisa langsung dirasakan,” ujar Maesyal Rasyid usai pertemuan.
Blueprint pembagian lahan 95 hektar tersebut kini telah dipetakan secara matang:
- Kawasan Permukiman Baru: Dialokasikan seluas 47 hektar untuk mendukung penataan hunian metropolitan.
- Pusat Pertanian Modern: Seluas 38 hektar akan dijadikan lumbung hijau demi ketahanan pangan kawasan aglomerasi.
- Infrastruktur Vital: Sekitar 1,4 hektar telah berjalan untuk fasilitas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), dan sisanya akan dibangun tandon air raksasa guna memperkuat pasokan air bersih serta mitigasi bencana.
Sinergi 3 Isu Krusial: Banjir, Sampah Nasional, dan Rencana MRT Tangerang Raya
Pertemuan tingkat tinggi ini tidak hanya mengunci masa depan Legok, tetapi juga melahirkan kesepakatan makro untuk mengatasi “tiga dosa besar” perkotaan: banjir, sampah, dan kemacetan.
- Bendung Banjir Lintas Batas: DKI Jakarta, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang sepakat berkolaborasi membangun embung-embung besar di titik-titik kritis perbatasan guna memutus rantai banjir musiman.
- Moderenisasi Sampah (PSEL): Wilayah Tangerang Raya resmi dimasukkan dalam proyek strategis nasional Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau PLTSa yang didorong langsung oleh pemerintah pusat.
- Konektivitas MRT Jakarta-Tangerang: Pembahasan perluasan jalur Mass Rapid Transit (MRT) menuju Tangerang kini telah memasuki tahap kajian teknis mendalam untuk memastikan mobilitas warga sub-urban ke pusat Jakarta bebas macet.
Jakarta-Banten: Hubungan “Satu Tubuh” yang Tak Terpisahkan
Gubernur Banten, Andra Soni, menegaskan bahwa secara geopolitik dan ekonomi, Jakarta dan Banten sudah tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Keduanya saling membutuhkan untuk menciptakan ruang hidup yang layak bagi puluhan juta warganya.
“Fokus kerja sama ini adalah pengelolaan sampah, penanggulangan banjir, dan transportasi,” tegas Andra Soni secara lugas.
Dengan bergulirnya proyek aglomerasi ini, Kecamatan Legok kini berada di baris terdepan magnet investasi baru di barat Jakarta, sekaligus menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antar-pemerintah daerah mampu melahirkan solusi konkret bagi masyarakat urban modern.(ceng)

Tinggalkan Balasan