TANGERANGNEWS.CO.ID, Tangerang | Fenomena tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan (living together) kian mencuat di kalangan anak muda, khususnya mahasiswa. Di media sosial, tak sedikit pasangan yang secara terbuka membagikan kehidupan mereka—mulai dari rutinitas harian hingga dinamika hubungan—seolah menjadi tren baru yang dianggap “biasa”.

Namun di balik normalisasi tersebut, publik terbelah. Sebagian melihatnya sebagai bentuk kebebasan dan kejujuran dalam hubungan, sementara yang lain menilai praktik ini bertentangan dengan nilai agama, budaya, dan norma sosial di Indonesia.

Pergeseran Cara Pandang Anak Muda

Perubahan pola pikir generasi muda disebut menjadi salah satu pemicu utama. Pernikahan mulai dipandang sebagai institusi yang kaku dan penuh aturan, sementara hidup bersama tanpa menikah dianggap lebih fleksibel dan “lebih jujur” dalam merepresentasikan perasaan cinta.

Bagi sebagian pasangan, living together bukan sekadar tren, tetapi pilihan hidup yang dianggap lebih realistis di tengah tekanan ekonomi dan kompleksitas hubungan modern.

Faktor Finansial hingga Lingkungan Sosial

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yulinda Nurul Aini, mengungkapkan bahwa fenomena ini tidak terjadi tanpa sebab. Berdasarkan kajiannya di Manado, terdapat tiga faktor utama yang mendorong pasangan memilih kohabitasi:

  • Tekanan finansial
  • Proses perceraian yang dinilai rumit
  • Adanya penerimaan dari lingkungan sekitar

Data dari Pendataan Keluarga 2021 (PK21) menunjukkan sekitar 0,6 persen populasi Kota Manado terlibat dalam praktik kohabitasi—angka yang dinilai kecil, namun cukup signifikan sebagai indikator perubahan sosial.

Dampak yang Tak Bisa Diabaikan

Di sisi lain, sejumlah kajian menyoroti potensi dampak negatif dari praktik ini. Kohabitasi disebut dapat berkaitan dengan:

  • Menurunnya kepuasan hidup
  • Munculnya masalah kesehatan mental
  • Minimnya komitmen dan kepercayaan
  • Ketidakpastian masa depan hubungan

Faktor-faktor tersebut menjadi perhatian serius, terutama bagi generasi muda yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri.

Pro dan Kontra yang Terus Menguat

Perdebatan pun tak terelakkan.
Sebagian masyarakat menganggap living together sebagai simbol keterbukaan dan pilihan personal, sementara pihak lain melihatnya sebagai bentuk pergeseran nilai yang perlu diwaspadai.

Fenomena ini menunjukkan satu hal:
Indonesia tengah berada di persimpangan antara nilai tradisional dan gaya hidup modern.

Pertanyaannya kini,
apakah living together akan menjadi norma baru di masa depan, atau justru memicu penegasan kembali nilai-nilai yang telah lama dijunjung?