TANGERANGNEWS.CO.ID, Jakarta | Pertumbuhan konsumsi rumah tangga kerap dipandang sebagai sinyal kuat bahwa ekonomi nasional sedang bergerak sehat. Namun di balik angka-angka yang tampak meyakinkan, muncul pertanyaan yang makin keras disuarakan publik: daya beli masyarakat itu benar-benar tumbuh, atau justru ditopang oleh utang?

Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, fenomena pinjaman online disebut makin membebani kelompok usia produktif. Ketika jutaan warga berada dalam pusaran cicilan, bunga tinggi, dan tekanan keuangan harian, konsumsi yang terus bergerak naik dinilai tidak selalu mencerminkan kesejahteraan yang sesungguhnya.

Sejumlah pengamat menilai, jika pendapatan bersih masyarakat terus tergerus oleh kewajiban membayar utang, maka yang terjadi bukanlah penguatan daya beli, melainkan perpindahan beban ke masa depan. Ibarat “memakan benih padi”, masyarakat dipaksa menghabiskan cadangan hari esok hanya untuk bertahan hidup hari ini.

Kondisi ini membuat indikator pertumbuhan ekonomi perlu dibaca lebih hati-hati. Angka konsumsi yang naik memang bisa menunjukkan aktivitas ekonomi tetap berjalan. Namun bila kenaikan itu ditopang oleh pinjaman konsumtif, maka yang terjadi bukan peningkatan kapasitas ekonomi, melainkan sinyal rapuhnya ketahanan finansial rumah tangga.

Kelompok usia produktif disebut menjadi pihak yang paling rentan terdorong ke dalam lingkaran utang. Mereka adalah kelompok yang semestinya menjadi motor penggerak ekonomi, tetapi justru bisa berubah menjadi korban tekanan biaya hidup, kredit cepat, dan pinjaman berbunga tinggi.

Karena itu, publik mulai menuntut pendekatan yang lebih serius dari pemerintah. Bukan sekadar mengandalkan regulasi administratif, melainkan membangun ekosistem perlindungan finansial yang benar-benar mampu memutus rantai ketergantungan terhadap utang konsumtif.

Pada titik ini, pertanyaan besarnya menjadi semakin relevan: apakah pertumbuhan konsumsi benar-benar menandakan masyarakat makin sejahtera, atau justru menjadi alarm bahwa ekonomi sedang ditopang oleh utang yang menumpuk?

Jika ukuran kemajuan hanya dilihat dari angka belanja, sementara isi dompet rakyat terus terkuras, maka pertumbuhan ekonomi berisiko menjadi ilusi yang rapuh. Yang dibutuhkan bukan sekadar pertumbuhan, melainkan daya beli yang lahir dari pendapatan sehat, bukan dari beban pinjaman yang kian mencekik.

Kalau mau, saya bisa ubah ini menjadi gaya lebih tajam, lebih provokatif, atau lebih formal seperti rilis media nasional.(ceng)