TANGERANGNEWS.CO.ID, Tangerang | Ambisi Pemerintah Kota Tangerang mengembangkan konsep aerotropolis—kota berbasis bandara—mulai menuai sorotan tajam. Di satu sisi, rencana ini digadang-gadang jadi lompatan ekonomi besar. Namun di sisi lain, warga justru mempertanyakan: apakah kota ini sudah siap?
Dalam forum Musrenbang RKPD 2027, pejabat Kementerian Perhubungan menegaskan bahwa pengembangan aerotropolis tak bisa berdiri sendiri. Kunci utamanya adalah integrasi transportasi yang matang dan menyeluruh.
Bandara Besar, Kota Masih Jadi “Lintasan”
Selama ini, Bandara Internasional Soekarno-Hatta dinilai belum memberikan dampak maksimal bagi Kota Tangerang.
Alih-alih menjadi pusat aktivitas ekonomi, kota ini justru masih dianggap sebagai wilayah lintasan menuju bandara.
“Kita harus ciptakan pusat kegiatan agar penumpang singgah di Kota Tangerang. Manfaatnya harus dirasakan masyarakat,” ujar perwakilan Kementerian Perhubungan.
Konsep aerotropolis sendiri menargetkan kawasan sekitar bandara berkembang menjadi pusat bisnis, logistik, hingga UMKM berbasis transit.
Masalah Klasik Belum Tuntas
Namun realita di lapangan berbicara lain. Sejumlah persoalan mendasar masih menghantui:
- Akses menuju bandara belum merata
- Kemacetan di jalur utama masih tinggi
- Konektivitas antar moda transportasi belum optimal
- Kawasan sekitar bandara tumbuh tanpa perencanaan matang
Bahkan, isu klasik seperti jalan rusak dan banjir masih menjadi keluhan utama warga.
Kritik Pedas Warga: “Seperti Mimpi Basah”
Suara kritis datang dari Heru Abdillah, aktivis sosial yang hadir dalam forum tersebut.
“Kalau jalan lingkungan saja masih rusak, banjir tiap musim hujan belum selesai, sekarang bicara aerotropolis. Ini seperti mimpi basah,” tegasnya.
Ia menilai pemerintah seharusnya lebih fokus pada kebutuhan dasar masyarakat sebelum melangkah ke proyek ambisius.
“Perbaiki dulu yang dirasakan langsung oleh warga,” tambahnya.
Potensi Besar, Tapi Butuh Realisasi Nyata
Bappeda Kota Tangerang sendiri mengakui bahwa potensi ekonomi dari bandara sangat besar, namun belum tergarap optimal.
Dalam dokumen perencanaan disebutkan, keberhasilan aerotropolis sangat bergantung pada dukungan kota secara menyeluruh—mulai dari infrastruktur hingga ekosistem ekonomi.
Antara Ambisi dan Realita
Kini, rencana besar ini menjadi ujian bagi pemerintah daerah: mampukah menyeimbangkan ambisi global dengan kebutuhan lokal?
Jika tidak, konsep aerotropolis berisiko hanya menjadi wacana megah—tanpa dampak nyata bagi masyarakat yang setiap hari bergulat dengan jalan rusak dan banjir.(ceng)

Tinggalkan Balasan